Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2020

Menyelamatkan Ekosistem Hutan Ronggurnihuta Melalui Implementasi Environmental Learning pada Mata Pelajaran IPA

Menyelamatkan Ekosistem Hutan Ronggurnihuta Melalui Implementasi Environmental Learning pada Mata Pelajaran IPA

Menyelamatkan Ekosistem Hutan Ronggurnihuta Melalui Implementasi Environmental Learning pada Mata Pelajaran IPA


Reynold Panjaitan, S.Pd
NIP.19851226201001015

Abstrak
              Upaya ekstensifikasi perkebunanan dalam meningkatkan produksi kopi di Ronggurnihuta, menjadikan hutan sebagai sasaran perluasan daerah perkebunan. Pertambahan jumlah penduduk ronggurnihuta mengakibatkan lahan warisan pertanian semakin sedikit ditambah lagi masih minimnya pengetahuan tentang upaya intensifikasi. Akibat dari ekstensifikasi perkebuan kedaerah hutan, mengakibatkan terganggunya ekosistem hutan. Akibat dan dampak dari kerusakan hutan itu adalah : terganggunya sistem hidro-orologis, hilangnya Biodiversitas, kemiskinan dan Kerugian secara ekonomisperubahan Iklim dan Pemanasan Global, kerusakan Ekosistem Darat maupun Laut, dan hilangnya budaya masyaraka.
              Diperlukan peranan siswa yang signifikan sebagai duta penyelamat ekosistem hutan, melalui aplikasi pembelajaran lingkungan disekolah yaitu dengan model environmental learninPenggunaan model pembelajaran ini dapat dilakukan dengan sistem belajar di luar kelas agar siswa memiliki pengalaman lebih dan proses pembelajaran bisa menyenangkan. Memberi pelajaran tentang lingkungan merupakan hal yang susah maka diperlukan peranan siswa, yang akan diharapkan menjadi perantara pendidikan lingkungan tersebut kepada masyarakat sekitar dengan mengkomunikasikan secara langsung ataupun dengan sikap terhadap alam sekitarnya. Metode pembelajaran enviro mental learning merupakan model pembelajaran yang paling tepat untuk meningkatkan pengetahuan siswa akan lingkungan.

Kata kunci : Ekosistem Hutan,Hutan Ronggurnihuta, Environmental Learning






BAB I   PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
              Pulau Samosir adalah anugerah Tuhan yang merupakan keajaiban alam yang harus dilestarikan. Anugerah ini harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar Danau Toba khususnya Masyarakat Kabupaten Samosir dan menjadi kebanggan bagi Indonesia. Semua ini bisa terealisasi apabila semua komponen masyarakat baik pemerintah daerah, tokoh masyarakat dan yang tidak kalah pentingnya adalah peranan pendidikan. Pendidikan mempunyai peran yang sangat sentral dalam semua bidang terutama dalam bidang lingkungan hidup. Wilayah kabupaten Samosir sebagaian besar berada di Pulau Samosir dan sebagian lagi berada di daratan pulau Sumatera dengan luas wilayah 1.419,5 km2. Kabupaten Samosir terdiri atas 9 kecamatan, salah satunya adalah Kecamatan Ronggurnihuta. Kecamatan Ronggurnihuta merupakan satu satunya kecamatan di Kabupaten Samosir yang tidak ada Danaunya. Kecamatan Ronggurnihuta berada di dataran tinggi pulau Samosir yang sebagaian besar lahannya adalah lahan kering dan hutan hutan tropis.
              Ronggurnihuta dikatakan sebagai lumbung kopi di kabupaten Samosir dengan hasil sekitar 1000 ton per-tahun atau setara 35 % dari total produksi kopi Kabupaten Samosir. Meningkatnya produksi kopi di Kecamatan Ronggurnihuta merupakan suatu yang membanggakan dalam sisi ekonominya akan tetapi banyak permasalahan yang muncul karena bagaimana sekalipun produksi kopi akan bersentuhan dengan kondisi lingkungan. Peningkatan produksi kopi Ronggurnihuta diikuti ekstensifikasi lahan pertanian yang tidak terkontrol hal ini diiringi dengan jumlah penduduk di Ronggurnihuta semakin bertambah sehingga lahan perkebunan warisan keluarga tidak cukup lagi untuk dibagi untuk anggota keluarga. Ektensifikasi lahan perkebunan ke daerah hutan hutan di kecamatan Ronggurnihuta di perpara lagi dengan pembangunan pemukiman baru disekitar dekat hutan diamana bahan bangunannya sebagian berasal dari pohon pohon dari hutan tersebut.
              Ekstensifikasi lahan perkebunan kedaerah hutan, pembangunan pemukiman baru dekat hutan serta maraknya pembakaran hutan akan mengakibatkan terganggunya ekosistem hutan dironggurnihuta. Komponen biotik ekosistem hutan tersebut seperti hewan hewan akan semakin terdesak karena habitatnya terganggu sehingga tingkat reproduksi sangat lambat dan akhirnya punah. Demikian tumbuh tumbuhan yang dulunya heterogen di hutan bila di jadikan perkebunan maka tingkat keanekaragamannya akan menurun. Berkurangnya lahan hutan di kwatirkan akan berakibat fatal bagi penduduk, dimana hutan yang dulunya sebagai daerah stabilitas dan resapan air jika musim hujan tidak akan mampu lagi menyokong tanah sehingga air hujan akan medorong tanah dan mengakibatkan longsor.
              Kurangnya pemahaman masyarakat sekitar akan pentingnya hutan dan pemahaman tentang lingkungan hidup menjadi biang kerok peristiwa ini. Memberikan pembelajaran secara langsung kepada masyarakat merupakan hal yang mustahil untuk dilaksanakan, maka dalam hal ini diperlukan peranan anak - anak atau siswa sebagai perantara pengetahuan lingkungan itu kepada orang tua mereka secara langsung dan melalui tindakan nyata.
              Pemerintah kabupaten samosir mempunyai visi dan misi menjadikan daerah tujuan wisata lingkungan yang inovatif 2015. Akan tetapi visi dan misi ini belum di dukung sepenuhnya oleh berbagai elemen yang terdapat di kabupaten ini, khususnya dari elemen pendidikan. Dalam mewujudkan visi dan misi kabupaten ini didalam pendidikan hanya sebatas wacana saja dan belum ada suatu yang signifikan dalam mewujudkan wisata lingkungan yang inovatif tersebut. Sekolah di samosir masih mengadopsi kurikulum yang di canangkan dari pusat yang pada prakteknya kolaborasi dengan lingkungan sangat minim. Dibeberapa daerah di Indonesia telah membuat kebijakan dalam hal menginstruksikan muatan lokal Pendidikan Lingkungan Hidup (mulok PLH). Daerah yang telah memasukkan Pendidikan Lingkungan Hidup ke dalam kurikulum secara mandiri telah memetik hasilnya dimana produknya adalah masyarakat yang sadar lingkungan. Tidaklah heran jika daerah yang mendapat penghargaan untuk pelestarian lingkungan adalah mayoritas daerah yang telah mengadopsi Pendidikan Lingkungan Hidup kedalam kurikulum pendidikan yaitu muatan lokal.
              Ada beberapa cara menginfiltrasi pendidikan lingkungan hidup kedalam kurikulum diantarnya adalah strategi guru dalam proses pembelajaran. Diantara strategi itu adalah kecakapan guru untuk memilih metode atau model pembelajaran yang tepat dan terjadi sinkronisasi dengan lingkungan. Dalam dunia pendidikan dikenal banyak sekali metode pembelajaran akan tetapi metode pembelajan tersebut tidak selalu bisa tepat dugunakan pada setiap bidang ilmu. Diantara metode pembelajaaran tersebut ada metode ceramah, metode diskusi, problem solving, metode diskusi panel, metode buzz group, metode symposium, metode informal debate, metode demonstrasi dan eksperimen, metode sosio drama, metode inquiri,  Environmental Learning,  metode kerja kelompok dan lain – lain. Masyarakat samosir tidak dapat dipisahkan dengan lingkungannya, yang artinya semua sendi kehidupan dipengaruhi oleh alam. Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas penduduk samosir adalah petani yang notabene adalah bergantung pada alam atau lingkungan. Akan tetapi tetapi pengetahuan dan kesadaran akan lingkungan masih sangat minim akibatnya kondisi lingkungan yang terus dieksplorasi oleh masyarakat makin mengkwatirkan. Oleh sebab itu pendidikan lingkungan wajib di sisipkan pada kurikulum setiap jenjang pendidikan baik pada tingkat taman kanak – kanak, SD, SMP dan SMA yang ada di Kabupaten Samosir sehingga dihasilkkan para generasi yang cinta lingkungan dan masyarakat berwawasan lingkungan serta mempertahankan kearifan lokal yang berbasis lingkungan sehingga program pemerintah daerah untuk menjadikan samosir menjadi daerah tujuan wisata yang berbasis lingkungan yang inovatif.

2.      Rumusan Masalah
1.      Apa saja dampak dari eksploitsi hutan dironggur
2.      Apakah model Environmental Learning itu
3.      Bagaimana peranan Environmental Learning untuk menyelamatkan ekosistem hutan

3.      Tujuan Penulisan
              Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perananan hutan dalam kehidupan dan dampak dari eksploitasi hutan. Mengetahui berbagai jenis pembelajaran khususnya environmental learning yaitu model pembelajaran berbasis lingkungan mengintegrasikan dalam mata Pelajara Ilmu Pengetahuan alam serta siswa mampu mengimplementasikan dalam kehidupan nyata untuk meminimalisasi eksploitasi hutan oleh masyarakat di Ronggurnihuta.



BAB II ISI

A.   EKOSISTEM HUTAN
1.      Defenisi Ekosistem Hutan
Ekosistem adalah tatanan dari satuan unsur-unsur lingkungan hidup dan kehidupan (biotik maupun abiotik) secara utuh dan menyeluruh, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung satu dengan yang lainnya. Ekosistem mengandung keanekaragaman jenis dalam suatu komunitas dengan lingkungannya yang berfungsi sebagai suatu satuan interaksi kehidupan dalam alamEkosistem yaitu tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan, dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh, sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energi (Woodbury, 1954 dalam Setiadi,1983)
Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Hutan sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman. Sedangkan hutan sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan serta mencegah timbulnya pemanasan global.
              Komponen dalam Ekosistem Hutan adalah komponen hidup (biotik) dan komponen tidak hidup (abiotik). Komponen biotik adalah semua makhluk hidup yang berada dalam hutan, sedangkan komponen abiotik antara lain adalah tanah, air, suhu, kelembaban, angin dan smua yang tidak hidup.
Dari segi makanan ekosistem memiliki 2 komponen yang biasanya secara bagian terpisah dalam ruang dan waktu yaitu:

1.      Komponen autotrofik:
Berdasarkan arti kata Autotrofik berasal dari kata autos yang berarti sendiri dan trophikos artinya menyediakan makanan, jadi komponen autotrofik adalah organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis makanannya sendiri. Bahan-bahan makanan yg disediakan adalah bahan organik berasal dari bahan-bahan anorganik dengan menggunakan bantuan klorofil dan energi utama berupa radiasi matahari. Sehingga yang termasuk dalam golongan aututropik ini pada umumnya adalah tumbuhan hijau atau yang memiliki klorofil. Pengikatan energi radiasi matahari dan sintesis bahan anorganik menjadi bahan organik kompleks hanya terjadi pada komponen autotropik.

2.      Komponen heterotrofik:
Berdasarkan arti kata, Heterotrof berasal dari kata hetero yang berarti berbeda, lain atau tidak seragam, sedangkan kata trophikos berarti menyediakan makanan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Komponen heterotrofik adalah semua organisme yang hidupnya selalu memanfaatkan bahan organik sebagai bahan makanannya, dimana bahan organik yang dimanfaatkan tersebut disediakan oleh organisme atau makhluk lain, dengan kata lain komponen heterotrofit memperoleh bahan makanan dari komponen autotrofik, kemudian sebagian anggota komponen ini menguraikan bahan organik kompleks ke dalam bentuk bahan anorganik yang sederhana dengan demikian, binatang, jamur, jasad renik termasuk ke dalam golongan komponen heterotrofik.